Welcome Bonus Sportsbook

Zona Betting Aman,Terpercaya & Profesional

Perpisahan Roberto Baggio paling kontroversial

Bookiepalace - Roberto Baggio hadirkan perpisahan yang sangat mengejutkan untuk para pendukung Fiorentina.

Tiga hari usai memainkan partai terakhirnya bersama La Viola, Roberto Baggio menimbulkan kekacauan yang sangat luar biasa di kota Firenze akibat transfernya ke Juventus.

Persaingan antara Fiorentina dan Juventus sudah terjalin abadi sejak peristiwa "Meglio Secondi Che Ladri" (lebih baik menjadi peringkat kedua dibanding jadi pencuri) pada tahun 1982.

Tifosi Fiorentina mengenang saat kejadian "pencurian Scudetto" itu dengan sangat dalam, hingga menjadi dendam yang tidak akan pernah hilang. Sejak saat sampai sekarang, Juventus selalu menjadi musuh utama publik Firenze.

Oleh karena itu tak heran jika selepas kejadian tersebut, ada banyak kisah mengerikan yang mengitari hubungan buruk tifosi Fiorentina dengan Juventus.

Salah satu yang paling dikenang adalah tepat 26 tahun silam usai bintang pujaan La Viola, Roberto Baggio, memainkan laga terakhirnya bersama klub.

Bukan partai sembarangan, karena yang dilawan adalah Juventus dan pertandingan tersebut merupakan duel leg kedua final Piala UEFA 1989/90.

Si Nyonya Tua yang punya modal kemenangan 3-1 pada leg pertama di Turin kemudian diuntungkan, bukan hanya karena skor agregat melainkan atmosfir dan tempat pertandingan untuk leg kedua.

Yang seharusnya dimainkan di Artemio Franchi, kandang Fiorentina, leg kedua diputuskan untuk dipindahkan ke Stadio Partenio-Lombardi di Avellino. Panitia turnamen melakukan hal itu dengan alasan untuk menghindari kerusuhan di Firenze, andaikan Juventus yang jadi juaranya.

Meski begitu, stadion tetap dipadati oleh 40 ribu penonton yang mayoritas tifosi Fiorentina. Sayang, La Viola gagal membalas atau menyamakan agregat karena duel berakhir imbang tanpa goal. Juventus pun keluar sebagai juara Piala UEFA.

Tak dapat dihindari, publik Firenze mengamuk atas kekalahan tersebut, tidak hanya karena itu adalah final Piala UEFA tetapi juga karena mereka kalah dari tim yang paling dibenci, Juventus.

Untungnya amukan itu tak sampai menimbulkan kekacauan berarti, sehingga polisi kota yang dibelah sungai Arno tersebut bisa tenang,

Namun siapa yang menyangka bila kekacauan sesungguhnya baru meledak tiga hari berselang. Salah satu transfer terbesar dan 'tergila' sepanjang sejarah disepakati manajemen Fiorentina, dengan menjual pujaan kotanya, Roberto Baggio, ke Juve! Ya, hanya tiga hari setelah final.

Nilai transfernya tergolong fantastis kala itu, yakni sebesar €10 juta. Angka yang menjadikan Roberto Baggio sebagai pesepakbola dengan banderol termahal dunia.

Protes besar-besaran lantas dilakukan oleh ribuan suporter La Viloa di jalanan kota Firenze pasca kepindahan Il Divin Codino, ke rival terbesar. Lemparan batu, perusakan fasilitas kota juga stadion, hingga peledakan bom molotov jadi warna suram kota Firenze kala itu. Setidaknya 50 orang terluka akibat aksi tersebut.

Setelah insiden mereda, Roberto Baggio kemudian menegaskan dirinya bukan orang yang menentukan transfer ini. "Anda semua harus tahu, saya dipaksa menerima transfer ini," tuturnya.

Roberto Baggio lantas tampil fantastis bersama Juventus, tapi hanya berselang setahun pasca kedatangannya, pemain spesialis nomor 10 itu jadi tak populer di mata Juventini.

Dalam duel menghadapi Fiorentina di Artemio Franchi pada 7 April 1991, Baggio enggan jadi eksekutor hadiah penalti yang dihadiahkan untuk I Bianconeri.

Gigi De Agostini yang kemudian mengambil eksekusi gagal memanfaatkannya. Seketika Baggio ditarik keluar sang pelatih, Luigi Maifredi. Ia lalu memasuki ruang ganti dengan mengenakan syal berwarna ungu, pemberian tifosi La Viola yang berada di tribun.

"Gianmatteo Mareggini [kiper Fiorentina] adalah orang yang paling tahu teknik penalti saya. Lagi pula jauh di lubuk hati saya, selalu berwarna ungu," papar Baggio selepas laga, yang kontan membuat Juventini gantian meradang.